Sabtu, 05 Mei 2012

LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN POST TERM

A. DEFINISI  Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berlangsung 42 minggu atau lebih. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 12 ) • Kelahiran lewat waktu adalah kelahiran bayi lebih dari akhir minggu ke – 42 gestasi atau 294 hari sejak dari pertama periode menstruasi terakhir. ( Bobak, dkk, 2005 : 821 ) • Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu legkap. ( Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,2007 : 317 ) B. ETIOLOGI Faktor – faktor yang mempengaruhi kehamilan serotinus, yaitu : 1. Faktor Potensial : adanya defisiensi hormon adrenokortikotropik ( ACTH ) 2. Semua faktor yang mengganggu mulainya persalinan baik faktor ibu, plasenta, maupun anak. Kehamilan terlama adalah 1 tahun 24 hari, yang terjadi pada bayi dengan anensefal. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) C. TANDA DAN GEJALA  Tanda – tanda serotinitas :  Menghilangnya lemak subkutan  Kulit kering, keriput atau retak – retak  Pewarnaan mekonium pada kulit, umbilikus, dan selaput ketuban  Kuku dan rambut panjang  Bayi malas ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) D.PATOLOGI  Sindrom postmatur  Disfungsi plasenta  Gawat janin dan oligohidramnion  Pertumbuhan janin terhambat E. DIAGNOSIS Penentuan kehamilan berdasarkan rumus Naegele, dihitung dari hari pertama haid terakhir dan berdasarkan siklus haid ( Taksiran persalinan adalah 280 hari atau 40 minggu dari hari pertama haid terakhir pada siklus 28 hari atau 266 hari setelah ovulasi ). Jadi, untuk menentukan kehamilan serotinus harus diketahui umur kehamilan secara tepat. Selain dari haid, penentuan umur kehamilan dapat dibantu secara klinis dengan mengevaluasi kembali umur kehamilan dari saat pertama kali ibu datang. Makin awal pemeriksaan kehamilan dilakukan, umur kehamilan makin mendekati kebenaran, menanyakan kapan terasa pergerakan anak, atau pengukuran fundus uteri secara serial. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah : 1. ) Air ketuban yang berkurang; 2.) gerakan janin yang jarang Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan. Pemeriksaan sitologi vagina ( indeks kariopiknotik > 20 % ) mempunyai sensitifitas 75 % dan tes tanpa tekanan dengan kardiotokografi mempunyai spesifitas 100% dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta atau postterm. Perlu diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi. ( Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohrdjo, 2007 : 319 ) F. PENATALAKSANAAN Yang terpenting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin karena setiap keterlambatan akan menimbulkan risiko kegawatan. Penatalaksanaan aktif kehamilan lewat waktu : 1. Tes tanpa tekanan ( non stress test ). Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan test tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98, 8 % menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif , mekipun spesifisitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur. 2. Tes tekanan oksitosin. Hasil tes tekanan yang positif menunjukkan penurunan fungsi plasenta janin, hal ini mendorong untuk melakukan seksio sesaria. Di FKUI induksi partus dilakukan dengan pemasangan balon kateter Foley ke dalam kanalis servikalis dan bila setelah 24 jam belum partus spontan dilakuakn infus oksitosin dan amniotomi. Induksi oksitosin dapat dilakukan bila serviks telah matang dan bila perlu dilakukan amniotomi. Prostaglandin E dapat pula digunakan untuk mematangkan serviks. 3. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subyektif ( normal rata – rata 7 kali/ 20 menit ) atau secara obyektif dengan tokografi ( normal rata – rata 10 kali/ 20 menit ). Gerakan janin dapat pula ditentukan pada pemeriksaan ultrasonografi. Dengan menentukan nilai biofisik maka keadaan janin dapat dipastikan lebih baik. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG ( normal > 1 cm/ bidang ) memberikan gambaran banyaknya air ketuban; bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu. 4. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami risiko 33 % asfiksia Keadaan yang mendukung bahwa janin masih baik memungkinkan untuk mengambil keputusan : a) Menunda 1 minggu dengan menilai gerakan janin dan tes tanpa tekanan 3 hari lagi b) Melakukan induksi partus ( Ilmu Kebidanan. YBPSP, 2007 : 319 – 320 ) G. KOMPLIKASI a. Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik b. Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat, gawat janin sampai bayi meninggal. c. Keluarnya mekonium yang dapat menyebabkan aspirasi mekonium. ( Pelayanan Kesehatan Maternal dan neonatal. YBPSP. 2007 : 307 ) e.Kematian janin dalam kandungan ( IUFD ) f.Asfiksi ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) H. PROGNOSA Kematian janin pada kehamilan serotinus meningkat bila pada kehamilan normal ( 37 – 41 minggu ) angka kematiannnya 1, 1 %. Oleh karena itu, pada 43 minggu angka kematian bayi menjadi 3, 3 % dan pada kehamilan 44 minggu menjadi 6, 6 %. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN KEHAMILAN LEWAT WAKTU I. PENGKAJIAN A. DATA SUBJEKTIF • Biodata Umur :sering terjadi pada primigravida muda dan primigravida tua atau dalam grandemultiparitas. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 12 ) • Riwayat Menstruasi HPHT Penentuan kehamilan berdasarkan rumus Naegele, dihitung dari hari pertama haid terakhir dan berdasarkan siklus haid ( Taksiran persalinan adalah 280 hari atau 40 minggu dari hari pertama haid terakhir pada siklus 28 hari atau 266 hari setelah ovulasi ). Jadi, untuk menentukan kehamilan serotinus harus diketahui umur kehamilan secara tepat. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) Menentukan taksiran persalinan Menentukan taksiran persalinan merupakan bagian terpenting dari perawatan antenatal, karena akan berpengaruh pada tindakan selanjutnya. Menentukan saat persalinan lebih tepat dan dapat dipercaya bila dilakukan pada kehamilan dini. ( Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007 : 306 ) B. DATA OBJEKTIF • Pemeriksaan Khusus – Denyut Jantung Janin ( DJJ ) harus diperiksa untuk menentukan nilai dasar, variabilitas, perubahan periodik, dan perubahan tidak periodik. ( Bobak, dkk. 2005 : 637 ) • Pemeriksaan Penunjang – Pemeriksaan Ultrasonografi o Pemeriksaan biometri untuk menaksir berat janin o Pemeriksaan derajat kematangan plasenta dan keadaan cairan amnion. Kantung amnion kurang dari 2 cm atau indeks cairan amnion kurang dari 5 cm, merupakan indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Perlu dilakukan penilaian adanya gangguan pertumbuhan janin intrauterin. o Kelainan kongenital o Presentasi janin ( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neontal. YBPSP, 2007 : 306 - 307 ) – Pemeriksaan Kardiotokografi Kardiotokografi mempunyai spesifitas 100 % dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta. ( Ilmu Kebidanan. YBPSP, 2007 : 319 ) – Pemeriksaan Amnioskopi Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33 % asfiksia. – Pemeriksaan NST Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan Oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifitas 98, 8 % menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, mekipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur. II. MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH  DIAGNOSA Kehamilan Lewat Waktu MASALAH  Serviks yang belum matang  Kecemasan ibu  Persalinan traumatis akibat janin besar  Angka kejadian seksio sesaria meningkat karena gawat janin, distosia, dan disproporsi pelvik.  Meningkatnya perdarahan pascapersalinan, karena penggunaan oksitosin untuk akselerasi atau induksi. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neontal. YBPSP, 2007 : 306 ) III. MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL DIAGNOSA POTENSIAL  Kelainan pertumbuhan janin – Janin besar dapat menyebabkan distosia bahu, fraktur klavikula, palsi Erb – Duchene – Pertumbuhan janin terhambat  Oligohdramnion Kelainan cairan amnion ini mengakibatkan – Gawat janin, – Keluarnya mekoneum – Tali pusat tertekan sehingga menyebabkan kematian janin mendadak. ( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP, 2007 : 306 ) IV. KEBUTUHAN Dukungan emosional merupakan hal yang sangat penting untuk wanita pasca matur. ( Bobak, dkk. 2005 : 821 ) V. TUJUAN Pemeriksaan laboratorium lebih lanjut pada kehamilan lewat waktu berguna untuk menghindari adanya komplikasi pada ibu dan janin dalam kandungan. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP, 2007 : 307 ) VI. KRITERIA HASIL  Dapat diketahui taksiran persalinan dengan tepat  Janin di dalam kandungan bergerak dengan normal ( 3 – 5X/ 10 menit )  DJJ normal ( 120 – 160X / menit )  Jumlah air ketuban dalam keadaan normal, tidak terjadi oligohidramnion  Tidak terjadi disfungsi plasenta  Ibu tidak merasa cemas lagi  Peningkatan perdarahan pasca partum dapat teratasi  Trauma persalinan akibat janin besar dapat teratasi dengan baik INTERVENSI Intervensi Rasional - lakukan pemeriksaan ultrasonografi - lakukan pemeriksaan amnioskopi - lakukan pemeriksaan kardiotokografi - lakukan pemeriksaan NST - lakukan uji oksitosin (stress test ) - dengan pemeriksaan ultrasonografi dapat menaksir berat janin, memeriksa derajat kematangan plasenta, keadaan cairan amnion, kelainan kongenital, presentasi janin. - dengan pemeriksaan amnioskopi dapat diketahui jumlah dan warna air ketuban. - - dengan pemeriksaan kardiotokografi dapat ditentukan adanya disfungsi janin plasenta atau posterm. - dengan pemeriksaan NST dapat diketahui kereaktifan janin dalam kandungan - dengan uji oksitosin dapat diketahui reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Hasil tes yang positif menunjukkann penurunan fungsi plasenta. IMPLEMENTASI 1. Melakukan pemeriksaan berat badan, lingkar perut, dan jumlah air ketuban 2. Melakukan pemeriksaan ultrasonografi 3. Melakukan pemeriksaan amnioskopi 4. Melakukan pemeriksaan kardiotokografi 5. Melakukan pemeriksaan NST 6. Melakukan uji oksitosin ( stress test ) DAFTAR PUSTAKA Bobak, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC. Cunningham,F.Gary.2005. Obstetri Williams.Jakarta:EGC. Martaadisoebrata,Djamhoer.2006.Obstetri Patologi.Jakarta : EGC. Prawirohardjo, Sarwono.2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.. Prawirohardjo, Sarwono.2007. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Varney, Helen.2005. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta:EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar