Sabtu, 05 Mei 2012

LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN POST TERM

A. DEFINISI  Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berlangsung 42 minggu atau lebih. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 12 ) • Kelahiran lewat waktu adalah kelahiran bayi lebih dari akhir minggu ke – 42 gestasi atau 294 hari sejak dari pertama periode menstruasi terakhir. ( Bobak, dkk, 2005 : 821 ) • Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu legkap. ( Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,2007 : 317 ) B. ETIOLOGI Faktor – faktor yang mempengaruhi kehamilan serotinus, yaitu : 1. Faktor Potensial : adanya defisiensi hormon adrenokortikotropik ( ACTH ) 2. Semua faktor yang mengganggu mulainya persalinan baik faktor ibu, plasenta, maupun anak. Kehamilan terlama adalah 1 tahun 24 hari, yang terjadi pada bayi dengan anensefal. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) C. TANDA DAN GEJALA  Tanda – tanda serotinitas :  Menghilangnya lemak subkutan  Kulit kering, keriput atau retak – retak  Pewarnaan mekonium pada kulit, umbilikus, dan selaput ketuban  Kuku dan rambut panjang  Bayi malas ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) D.PATOLOGI  Sindrom postmatur  Disfungsi plasenta  Gawat janin dan oligohidramnion  Pertumbuhan janin terhambat E. DIAGNOSIS Penentuan kehamilan berdasarkan rumus Naegele, dihitung dari hari pertama haid terakhir dan berdasarkan siklus haid ( Taksiran persalinan adalah 280 hari atau 40 minggu dari hari pertama haid terakhir pada siklus 28 hari atau 266 hari setelah ovulasi ). Jadi, untuk menentukan kehamilan serotinus harus diketahui umur kehamilan secara tepat. Selain dari haid, penentuan umur kehamilan dapat dibantu secara klinis dengan mengevaluasi kembali umur kehamilan dari saat pertama kali ibu datang. Makin awal pemeriksaan kehamilan dilakukan, umur kehamilan makin mendekati kebenaran, menanyakan kapan terasa pergerakan anak, atau pengukuran fundus uteri secara serial. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) Keadaan klinis yang mungkin ditemukan ialah : 1. ) Air ketuban yang berkurang; 2.) gerakan janin yang jarang Bila telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi serial terutama sejak trimester pertama maka hampir dapat dipastikan usia kehamilan. Sebaliknya pemeriksaan yang sesaat setelah trimester III sukar untuk memastikan usia kehamilan. Pemeriksaan sitologi vagina ( indeks kariopiknotik > 20 % ) mempunyai sensitifitas 75 % dan tes tanpa tekanan dengan kardiotokografi mempunyai spesifitas 100% dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta atau postterm. Perlu diingat bahwa kematangan serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi. ( Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohrdjo, 2007 : 319 ) F. PENATALAKSANAAN Yang terpenting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin karena setiap keterlambatan akan menimbulkan risiko kegawatan. Penatalaksanaan aktif kehamilan lewat waktu : 1. Tes tanpa tekanan ( non stress test ). Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan test tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98, 8 % menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif , mekipun spesifisitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur. 2. Tes tekanan oksitosin. Hasil tes tekanan yang positif menunjukkan penurunan fungsi plasenta janin, hal ini mendorong untuk melakukan seksio sesaria. Di FKUI induksi partus dilakukan dengan pemasangan balon kateter Foley ke dalam kanalis servikalis dan bila setelah 24 jam belum partus spontan dilakuakn infus oksitosin dan amniotomi. Induksi oksitosin dapat dilakukan bila serviks telah matang dan bila perlu dilakukan amniotomi. Prostaglandin E dapat pula digunakan untuk mematangkan serviks. 3. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subyektif ( normal rata – rata 7 kali/ 20 menit ) atau secara obyektif dengan tokografi ( normal rata – rata 10 kali/ 20 menit ). Gerakan janin dapat pula ditentukan pada pemeriksaan ultrasonografi. Dengan menentukan nilai biofisik maka keadaan janin dapat dipastikan lebih baik. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG ( normal > 1 cm/ bidang ) memberikan gambaran banyaknya air ketuban; bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu. 4. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami risiko 33 % asfiksia Keadaan yang mendukung bahwa janin masih baik memungkinkan untuk mengambil keputusan : a) Menunda 1 minggu dengan menilai gerakan janin dan tes tanpa tekanan 3 hari lagi b) Melakukan induksi partus ( Ilmu Kebidanan. YBPSP, 2007 : 319 – 320 ) G. KOMPLIKASI a. Anak besar, dapat menyebabkan disproporsi sefalopelvik b. Oligohidramnion, dapat menyebabkan kompresi tali pusat, gawat janin sampai bayi meninggal. c. Keluarnya mekonium yang dapat menyebabkan aspirasi mekonium. ( Pelayanan Kesehatan Maternal dan neonatal. YBPSP. 2007 : 307 ) e.Kematian janin dalam kandungan ( IUFD ) f.Asfiksi ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) H. PROGNOSA Kematian janin pada kehamilan serotinus meningkat bila pada kehamilan normal ( 37 – 41 minggu ) angka kematiannnya 1, 1 %. Oleh karena itu, pada 43 minggu angka kematian bayi menjadi 3, 3 % dan pada kehamilan 44 minggu menjadi 6, 6 %. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL DENGAN KEHAMILAN LEWAT WAKTU I. PENGKAJIAN A. DATA SUBJEKTIF • Biodata Umur :sering terjadi pada primigravida muda dan primigravida tua atau dalam grandemultiparitas. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 12 ) • Riwayat Menstruasi HPHT Penentuan kehamilan berdasarkan rumus Naegele, dihitung dari hari pertama haid terakhir dan berdasarkan siklus haid ( Taksiran persalinan adalah 280 hari atau 40 minggu dari hari pertama haid terakhir pada siklus 28 hari atau 266 hari setelah ovulasi ). Jadi, untuk menentukan kehamilan serotinus harus diketahui umur kehamilan secara tepat. ( Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dkk. Sp. OG, 2005 : 13 ) Menentukan taksiran persalinan Menentukan taksiran persalinan merupakan bagian terpenting dari perawatan antenatal, karena akan berpengaruh pada tindakan selanjutnya. Menentukan saat persalinan lebih tepat dan dapat dipercaya bila dilakukan pada kehamilan dini. ( Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007 : 306 ) B. DATA OBJEKTIF • Pemeriksaan Khusus – Denyut Jantung Janin ( DJJ ) harus diperiksa untuk menentukan nilai dasar, variabilitas, perubahan periodik, dan perubahan tidak periodik. ( Bobak, dkk. 2005 : 637 ) • Pemeriksaan Penunjang – Pemeriksaan Ultrasonografi o Pemeriksaan biometri untuk menaksir berat janin o Pemeriksaan derajat kematangan plasenta dan keadaan cairan amnion. Kantung amnion kurang dari 2 cm atau indeks cairan amnion kurang dari 5 cm, merupakan indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Perlu dilakukan penilaian adanya gangguan pertumbuhan janin intrauterin. o Kelainan kongenital o Presentasi janin ( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neontal. YBPSP, 2007 : 306 - 307 ) – Pemeriksaan Kardiotokografi Kardiotokografi mempunyai spesifitas 100 % dalam menentukan adanya disfungsi janin plasenta. ( Ilmu Kebidanan. YBPSP, 2007 : 319 ) – Pemeriksaan Amnioskopi Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33 % asfiksia. – Pemeriksaan NST Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan Oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifitas 98, 8 % menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, mekipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur. II. MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH  DIAGNOSA Kehamilan Lewat Waktu MASALAH  Serviks yang belum matang  Kecemasan ibu  Persalinan traumatis akibat janin besar  Angka kejadian seksio sesaria meningkat karena gawat janin, distosia, dan disproporsi pelvik.  Meningkatnya perdarahan pascapersalinan, karena penggunaan oksitosin untuk akselerasi atau induksi. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neontal. YBPSP, 2007 : 306 ) III. MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL DIAGNOSA POTENSIAL  Kelainan pertumbuhan janin – Janin besar dapat menyebabkan distosia bahu, fraktur klavikula, palsi Erb – Duchene – Pertumbuhan janin terhambat  Oligohdramnion Kelainan cairan amnion ini mengakibatkan – Gawat janin, – Keluarnya mekoneum – Tali pusat tertekan sehingga menyebabkan kematian janin mendadak. ( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP, 2007 : 306 ) IV. KEBUTUHAN Dukungan emosional merupakan hal yang sangat penting untuk wanita pasca matur. ( Bobak, dkk. 2005 : 821 ) V. TUJUAN Pemeriksaan laboratorium lebih lanjut pada kehamilan lewat waktu berguna untuk menghindari adanya komplikasi pada ibu dan janin dalam kandungan. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP, 2007 : 307 ) VI. KRITERIA HASIL  Dapat diketahui taksiran persalinan dengan tepat  Janin di dalam kandungan bergerak dengan normal ( 3 – 5X/ 10 menit )  DJJ normal ( 120 – 160X / menit )  Jumlah air ketuban dalam keadaan normal, tidak terjadi oligohidramnion  Tidak terjadi disfungsi plasenta  Ibu tidak merasa cemas lagi  Peningkatan perdarahan pasca partum dapat teratasi  Trauma persalinan akibat janin besar dapat teratasi dengan baik INTERVENSI Intervensi Rasional - lakukan pemeriksaan ultrasonografi - lakukan pemeriksaan amnioskopi - lakukan pemeriksaan kardiotokografi - lakukan pemeriksaan NST - lakukan uji oksitosin (stress test ) - dengan pemeriksaan ultrasonografi dapat menaksir berat janin, memeriksa derajat kematangan plasenta, keadaan cairan amnion, kelainan kongenital, presentasi janin. - dengan pemeriksaan amnioskopi dapat diketahui jumlah dan warna air ketuban. - - dengan pemeriksaan kardiotokografi dapat ditentukan adanya disfungsi janin plasenta atau posterm. - dengan pemeriksaan NST dapat diketahui kereaktifan janin dalam kandungan - dengan uji oksitosin dapat diketahui reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Hasil tes yang positif menunjukkann penurunan fungsi plasenta. IMPLEMENTASI 1. Melakukan pemeriksaan berat badan, lingkar perut, dan jumlah air ketuban 2. Melakukan pemeriksaan ultrasonografi 3. Melakukan pemeriksaan amnioskopi 4. Melakukan pemeriksaan kardiotokografi 5. Melakukan pemeriksaan NST 6. Melakukan uji oksitosin ( stress test ) DAFTAR PUSTAKA Bobak, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC. Cunningham,F.Gary.2005. Obstetri Williams.Jakarta:EGC. Martaadisoebrata,Djamhoer.2006.Obstetri Patologi.Jakarta : EGC. Prawirohardjo, Sarwono.2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.. Prawirohardjo, Sarwono.2007. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Varney, Helen.2005. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta:EGC.

FISIOLOGI KEHAMILAN

Fisiologi dan Tanda-Tanda Kehamilan Penentuan dan dugaan terhadap kehamilan sangat terkait dengan pengetahuan tentang fisiologi awal kehamilan. Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genitalia wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.Kehamilan mempengaruhi tubuh ibu secara keseluruhan dengan menimbulkan perubahan fisiologi yang pada hakekatnya terjadi di seluruh sistem organ. Maka dari itu penting untuk mengetahui perubahan apa saja yang terjadi kepada ibu saat sedang dalam masa kehamilan. 1. Perubahan pada sistem Reproduksi a. Uterus Ukuran: untuk akomodasi pertumbuhan janin, rahim membesar akibat hipertrofi dan hiperplasi otot polos rahim, serabut-serabut kolagennya menjadi higroskopik. Endometrium menjadi desidua. Ukuran pada kehamilan cukup bulan: 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc. Berat : Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 Gram menjadi 1000 Gram pada akhir kehamilan (40 pekan). Bentuk dan konsistensi :  Pada bulan-bulan pertama kehamilan , bentuk rahim seperti buah alpukat,  Pada kehamilan 4 bulan berbentuk bulat, dan akhir kahamilan seperti bujur telur. Rahim yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam.  Pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek.  Kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Pada minggu pertama, isthmus rahim mengadakan hipertrofi dan bertambah panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak disebut tanda hegar.  Pada kehamilan 5 bulan, rahim teraba seperti berisi cairan ketuban, dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian-bagian janin dapat diraba melalui dinding perut dan dinding rahim Posisi rahim dalam kehamilan:  Pada permulaan kehamilan, dalam letak antefleksi atau retrofleksi.  Pada 4 bulan kehamilan, rahim tetap berada dalam rongga pelvis.  Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas hati.  Rahim yang hamil biasanya mobil, lebih mengisi rongga abdomen kanan atau kiri. (Rustam Mochtar. 1998. Hal: 35-36) TRIMESTER I Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan progesteron. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh adanya: 1) Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah. 2) Hiperplasia (produksi serabut otot dan jaringan fibroelastis baru) dan hipertrofi (pembesaran serabut otot dan jaringan fibroelastis yang sudah ada). 3) Perkembangan desidua. Hipertrofi otot polos uterus, dan serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin. Selain bertambah besar, uterus juga mengalami perubahan berat, bentuk dan posisi. Dinding-dinding otot menjadi kuat dan elastis, fundus pada servic mudah fleksi yang disebut tanda Mc. Donald. Setelah minggu ke-8 korpus uteri dan serviks melunak dan membesar secara keseluruhan. Fundus menekan kandung kemih, menyebabkan wanita sering mengalami urinary frequency (sering berkemih). Hipertropi ithmus menjadi panjang dan lebih lunak yang disebut tanda Hegar. Perlunakan ithnus uteri pada sambungan serviks dan korpus ini timbul pada minggu ke 6 pertama setelah haid terkhir. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di bawah ini, tentang perubahan-perubahan yang terjadi tiap trimester. TRIMESTER II Pada kehamilan 16 minggu cavum uteri sama sekali diisi oleh ruang amnion yang terisi janin dan istimus menjadi korpus uteri. Bentuk uterus menjadi bulat dan berangsur-angsur berbentuk lonjong seperti telur, ukurannya kira-kira sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa. Pada saat ini, uterus mulai memasuki rongga peritoneum. 1) 16 minggu: fundus uteri kira-kira terletak di antara setengah jarak pusat ke sympisis. 2) 20 minggu: fundus uteri kira-kira terletak di pinggir bawah pusat. 3) 24 minggu: fundus uteri berada tepat di pinggir atas pusat. Pada bulan keempat kehamilan, kontraksi uterus dapat dirasakan melalui dinding abdomen yang disebut braxton Hicks. Kontraksi memfasilitasi aliran darah ke uterus sehingga meningkatan pengangkatan oksigen ke uterus. Selain itu, uterus bertambah besar, berat, bentuk dan posisi. Dinding-dinding otot menjadi kuat dan elastis. Fundus pada serviks mudah fleksi yang disebut tanda Mc Donald. TRIMESTER III Pada trimester III istmus lebih nyata menjadi bagian korpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah rahim (SBR). SBR menjadi lebih lebar dan tipis pada kehamilan tua, tampak batas yang nyata antara bagian atas ynag lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis yang dikenal sebagai lingkaran retraksi fisiologis dinding uterus. Di atas lingkaran ini jauh lebih tebal daripada dinding SBR. 1) 28 minggu: fundus uteri kira-kira terletak 3 jari di atas pusat atau sepertiga jarak antara pusat ke prosesus xifoideus (25 cm). 2) 32 minggu: fundus uteri kira-kira terletak antara setengah jarak pusat dan prosesus xifoidus (27 cm). 3) 36 minggu: fundus uteri kira-kira 1 jari di bawah prosesus xifoidus (30 cm). 4) 40 minggu: fundus uteri kira-kira terletak 3 jari di bawah prosesus xifoidus (33 cm). Pada kehamilan akhir-akhir, kontraksi Barton Hicks semakin kuat sehingga sulit dibedakan dari kontraksi untuk memulai persalinan. (Yuni Kusmiyati, dkk. 2008. Hal: 54-55) b. Serviks Serviks menjadi lunak dan kebiruan akibat terjadinya penambahan vaskularisasi dan terjadi edema pada seluruh serviks, bersamaan dengan terjadinya hipertrifi dan hyperplasia pada kelenjar-kelenjar serviks. (Prawiroharjo, Sarwono. 2008. Hal : 177) Prostaglandin bekerja pada serabut kolagen, terutama pada minggu-minggu akhir kehamilan. Serviks menjadi lebih lunak dan lebih mudah berdilatasi yang disebut pematangan serviks. Dengan demikian serviks lebih mudah berdilatasi pada waktu persalinan. (Derek Llewellyn-Jones. 2001. Hal: 31) Sumbat mukus yang disebut operculum terbentuk dari sekresi kelenjar serviks pada kehamilan minggu ke-8. Sumbat mucus tetap berada dalam serviks sampai persalinan dimulai, dan pada saat itu, dilatasi serviks menyebabkan sumbat tersebut terlepas. Terlihatnya mucus serviks merupakan salah satu tanda dini persalinan. Operculum tersebut bekerja sebagai sawar fisik dengan menyegel uterus dan mikroorganisme yang menyebar naik. (Helen Farrer. 1998. Hal : 62) TRIMESTER I Serviks uteri mengalami perubahan karena hormon estrogen. Jaringan ikat pada serviks mengandund banyak kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat dan dengan adnya hipervaskularisasi serta meningkatnya suplai darah, maka konsistensi serviks semakin lunak (Tanda Goodell). Selama minggu awal kehamilan, peningkatan aliran darah uterus dan limfe dan istmus melunak secara progresif dan serviks menjadi kebiruan (tanda Chadwick, tanda kemungkinan hamil), perlunakan istmus menyebabkan antefleksi uterus berlebihan selama tiga bulan pertama kehamilan. TRIMESTER II Konsistensi serviks menjadi lunak dan kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. (Yuni Kusmiyati, dkk. 2008. Hal: 54-55) TRIMESTER III Kelenjar-kelenjar serviks mengalami proliferasi yang sangat besar sehingga pada akhir kehamilan, kelenjar ini dapat menempati kira-kira setengah dari seluruh massa serviks, bukan hanya sebagian kecil saja seperti saat tidak hamil. Selanjutnya septa yang memisahkan. (F. Gary Cunningham, dkk. 2004. Hal: 184) c. Vagina dan Vulva Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vagina dan vulva. Akibat vaskularisasi, vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiruan. Warna livid pada vagina dan portio serviks disebut tanda Chadwick. (Rustam Mochtar. 1998. Hal: 36) Dinding Vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan persiapan untuk mengalami peregangan pada waktu persalinan dengan meningkatnya ketebalan mukosa, mengendornya jaringan ikat, dan hipertrofi sel otot polos. Perubahan ini mengakibatkan bertambah panjangnya dinding vagina. Papilla mukosa juga mengalami hipertrofi dengan gambaran seperti paku sepatu. (Prawiroharjo, Sarwono. 2008. Hal : 178) Akibat hipertrofi otot, vagina menjadi lebih mudah berdilatasi. Perubahan diawali oleh estrogen yang terjadi pada awal kehamilan dan terjadi peningkatan deskuamasi sel mukosa vagina superficial disertai dengan meningkatnya discharge dari vagina. (Derek Llewellyn-Jones. 2001. Hal: 31) Peningkatan volume sekresi vagina juga terjadi, di mana sekresi akan berwarna keputihan, menebal, dan PH antara 3,5-6 yang merupakan hasil dari peningkatan produksi asam laktat glikogen yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari lactobacillus achidophilus. (Prawiroharjo, Sarwono. 2008. Hal : 179) TRIMESTER I Pada minggu ke-8 terjadi hipervaskularisai yang mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiruan (tanda Chadwick). Deskuamasi sel-sel vagina yang kaya glikogen terjadi akibat stimulasi estrogen. pH sekresi vagina menjadi lebih asam. TRIMESTER II Peningkatan vaskularisasi vagina dan visera panggul lain menyebabkan meningkatnya sensitivitas yang dapat meningkatkan keinginan dan bangkitan seksual. Peningkatan kongesti ditambah relaksasi dinding pembuluh darah dan uterus yang beratdapat menyebabkan timbulnya edema dan varises. (Yuni Kusmiyati, dkk. 2008. Hal: 54-55) d. Ovarium Proses ovulasi berhenti selama kehamilan, dan pematangan folikel baru ditangguhkan. Biasanya hanya satu korpus luteum gravidarum yang dapat ditemukan di dalam ovarium wanita hamil. Korpus luteum gravidarum ini cenderung berfungsi secara maksimal pada 6-7 minggu pertama kehamilan (4-5 minggu pascaovulasi), setelah itu hanya berpengaruh relative kecil pada produksi progesteron. Relaksin: Kerja biologisnya adalah remodeling jaringan ikat saluran reproduksi, sehingga memungkinkan akomodasi kehamilan dan persalinan yang sukses (Weiss dkk. 1993). Sekresi relaksin dalam jumlah yang cukup besar terus berlangsung selama kehamilan.antara usia gestasi 10-12 minggu, kadar relaksin berkorelasi dengan jumlah janin, namun kadarnya tidak berkurang seiring dengan berkurangnya jumlah janin. Luteoma Gravidarum: Luteoma gravidarum menggambarkan suatu reaksi luteinisasi berlebihan pada ovarium kehamilan normal. Luteoma mengalami regresi setelah pelahiran, tapi dapat berulang pada kehamilan-kehamilan berikuntya. Hiperpreaksio: Luteinalis. Lesi jinak ovarium yang menyebabkan virilisasi ibu selama masa kehamilan Tuba fallopi: Susunan otot tuba fallopi mengalami sedikit hipertrofi selama kehamilan. Epithelium mukosa tuba menjadi gepeng dibanding dengan saat tidak hamil. Sel-sel desidua dapat berkembang di dalam stroma endosapling, ttepai tidak terbentuk membrane desidua yang kontinyu. (F. Gary Cunningham, dkk. 2004. Hal: 184-186) TRIMESTER I Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum gravidarum, korpus luteum graviditatis berdiameter 3 cm, kemudian mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum ini mengeluarkan hormone estrogen dan progesteron. TRIMESTER II Pada usia kehamilan 16 minggu, plasenta mulai terbentuk dan menggantikan fungsi korpus luteum graviditatum. (Yuni Kusmiyati, dkk. 2008. Hal: 54-55) 2. Perubahan pada Payudara atau Mamae Pada minggu-minggu awal, wanita hamil sering mengalami rasa nyeri dan gatal di payudara. Setelah bulan kedua, payudara bertambah besar dan vena-vena halus menjadi kelihatan tepat di bawah kulit. Putting susu menjadi bertambah besar, berpigmen lebih gelap, dan lebih erektil. Setelah beberapa bulan pertama, cairan kental kekuning-kuningan (kolostrum) sering dapat ditekan keluar dari putting susu dengan tekanan lembut. Pada saat itu, areola menjadi lebih lebar dan berpigmen lebih gelap.sejumlah tonjolan-tonjolan kecil tersebar dis eluruh areola yang merupakan kelenjar sebasea yang mengalami hipertrofi. Bila pertambahan ukuran payudara sangat besar, dapat timbul striasi-striasi. Payudara akan terus tumbuh di sepanjang kehamilan dan ukuran serta beratnya meningkat hingga mencapai 500 gram untuk masing-masing payudara. TRIMESTER I Mamae akan membesar dan tegang akibat hormone somatomamotropin, estrogen dan progesterone. Estrogen menimbulkan hipertrofi dalam system saluran, sedangkan progesterone menambah sel-sel asinus pada mamae. Somatomamotropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan sehingga terjadi pembuatan kasein, laktalbumin, dan laktoglobulin. Di bawah pengaruh progesterone dan somatomamotropin terbentuk lemak di sekitar alveola-alveola, sehingga mamae menjadi lebih besar. Papilla mamae akan membesar, lebih tegang dan tambah lebih hitam, seperti seluruh areola mamae karena hiperpigmentasi. Rasa penuh, peningkatan sensitivitas, rasa geli dan rasa berat di payudara sejak minggu ke-6 gestasi. Peningkatan suplai darah membuat pembuluh darah di bawah kulit berdilatasi. TRIMESTER II Pada kehamilan 12 minggu ke atas dari puting susus akan keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut colostrum. Selama trimester ke-2 dan ke-3, pertumbuhan kelenjar mamae membuat ukuran payudara meningkat secara progresif. Kadar hormon luteal dan plasenta pada masa hamil meningkatkan poliferasi ductus laktiferus dan jaringan lobulus alveolar sehingga pada palpasi payudara teraba penyebaran nodul kasar. Walaupun perkembangan mamae secara fungsional lengkap pada pertengahan masa hamil, tetapi laktasi terlambat sampai kadar estrogen .menurun, yakni setelah janin dan plasenta lahir. 3. Perubahan pada Kulit Dinding Abdomen Pada bulan-bulan terakhir kehamilan, umumnya muncul garis-garis kemerahan yang sedikit mencekung pada kulit abdomen dan kadang kala pada kulit payudara dan paha pada sekitar separuh dari semua wanita hamil. Pada wanita multipara, selain striae kemerahan dari kehamilan yang sekarang, sering terlihat garis-garis mengkilat yang menunjukkan sikatriks striae kehamilan sebelumnya. Pigmentasi Pada banyak perempuan kulit digaris pertengahan perutnya (Linea albaa) akan berubah menjadi hitam kecoklatan yang disebut dengan Linea nigra. Kadang-kadang akan muncul dalam ukuran yang bervariasi pada wajah dan yang disebut dengan obloasma atau melasma gravidarum. Selain itu pada areola dan daerah genital juga akan terlihat pigmentasi yang berlebihan. Pigmentasi ini akan hilang atau jauh berkurang yaitu setelahnya persalinan. Perubahan ini dihasilkan dari cadangan melanin pada daerah epidermal dan dermal, adanya peningkatan kadar serum Melanocyte stimulating hormone, dan estrogen juga progesterone. Perubahan Pembuluh Darah Angioma, yang disebut juga spider nevi. Angioma ini berupa bintik-bintik penonjolan kecil dan merah pada kulit, terutama sering terdapat pada wajah, leher, dada atas, dan lengan. Kondisi ini sering disebut juga nevus angioma atau telangiekstasis. Eritema Palmaris juga di temukan pada wanita yang sedang hamil. Keduanya kemungkinan besar merupakan akibat hiperestrogenemia kehamilan. 4. Perubahan pada Sistem Endokrin Adanya peningkatan hormon estrogen dan progesterone serta terhambatnya pembentukan FSH dan LH. Kelenjar Hipofisis. Selama kehamilan, kelenjar hipofisismengalami perbesaran kira-kira 135% disbanding dengan control tidak hamil (Gonzalez dkk., 1988). Hormon Pertumbuhan. Selama trimester pertama, konsentrasi hormon pertumbuhan dalam serum dan cairan amnion berada dalam batas normal tidak hamil yaitu 0,5-7,5 ng/ml. kadar serum meningkat perlahan dari sekitar 3,5 ng/ml pada usia gestasi 10 minggu hingga mencapai titik plateau pada kurang lebih 14ng/ml setelah minggu ke-28. Hormon pertumbuhan di dalm cairan amnion memuncak pada minggu ke-14-15 dan perlahan-lahan menurun setelah itu hingga mencapai nilai paling rendah pada minggu ke-36. Prolaktin. Sepanjang kehamilan terdapat peningkatan nyata kadar prolaktin di dalam plasma ibu. Bahkan kadarnya dapat meningkat 10 kali lipat(sampai 150 ng/ml) saat aterm, dibanding pada wanita normal tidak hamil. Stimulasi estrogen meningkatkan jumlah laktotrof (sel-sel penghasil prolaktin) di hipofisis anterior dan mungkin merangsang pelepasan prolaktin dari sel-sel ini. Hormone pelepas tiroid (TRH) bekerja menyebabkan peningkatan kadar prolaktin pada wanita hamil, tetapi responnya menurun seiring dengan kemajuan kehamilan. Prolaktin terdapat di cairan amnion dalam konsentrasi tinggi. Kadar yang mencapai 10.000 ng/ml ditemukan pada usia gestasi 20-26 minggu. Setelah itu kadarnya menurun dan mencapai titik terendah setelah 34 minggu. Kelenjar Tiroid. Perubahan pada pengaturan tiroid selama kehamilan yang diakibatkan oleh 3 modifikasi dalam hormone tiroid.  Kehamilan menginduksi suatu peningkatan nyata pada kadar protein transport tiroksin mayor dan globulin pengikat tiroksin dalam sirkulasi sebagai respon terhadap tingginya kadar estrogen.  Beberapa faktor perangsang tiroid yang berasal dari plasenta diproduksi secara berlebihan.  Kehamilan disertai dengan menurunnya ketersediaan iodide untuk tiroid ibu. Selama massa kehamilan, tiroid mengalami pembesaran sedang yang disebabkan oleh hyperplasia jaringan kelenjar dan meningkatnya vaskularitas. Volume total kelenjar meningkat dari 12,1 ml pada trimester pertama hingga 15,0 ml saat pelahiran Kelenjar Paratiroid. Konsentrasi hormone paratiroid di dalam plasma menurun selama trimester pertama, kemudian meningkat secara progresif sepanjang sisa kehamilan. Kelenjar Adrenal. Pada kehamilan normal, mungkin hanya terdapat perubahan morfologis yang sangat kecil pada kelenjar adrenal ibu. Berikut perubahan-perubahan hormonal selama kehamilan (dari trimester I sampai trimester III).  Esterogen Produksi esterogen terus naik selama kehamilan dan pada akhir kehamilan kadarnya kira-kira 100 kali sebelum hamil.  Progesteron Produksi progesteron bahkan lebih banyak dibandingkan esterogen. Pada akhir kehamilan produksinya kira-kira 250 mg/hari. progesteron menyebabkan tonus otot polos menurun dan juga diuresis. Progesteron menyebabkan lemak disimpan dalam jaringan sub kuratan di abdomen, punggung dan paha atas. Lemak berfungsi sebagai cadangan energi baik pada masa hamil maupun menyusui.  Human Chorionik Gonadotropin (HCG) Hormon ini dapat terdeteksi beberapa hari setelah pembuahan dan merupakan dasartes kehamilan. Puncak sekresinya terjadi kurang lebih 60 hari setelah konsepsi. Fungsi utamanya adalah mempertahankankorpus luteum.  Human Placental Lactogen (HPL) Hormon ini produksinya terus naik dan pada saat aterm mencapai 2 gram/hari. Efeknya mirip dengan hormon pertumbuhan. Ia juga bersifat diabetogenik, sehingga kebutuhan insulin wanita hamil naik.  Pituitari Gonadotropin FSH dan LH berada dalam keadaan sangat rendah selama kehamilan karena ditekan oleh esterogen dan progesteron plasenta.  Prolaktin Produksinya terus meningkat, sebagai akibat kenaikan sekresi esterogen. Sekresi air susu sendiri dihambat oleh esterogen di tingkat terget organ.  Growth hormon (STH) Produksinya sangat rendah karena mungkin ditekan HPL.  TSH, ACTH, dan MSH Hormon-hormon tidak banyak dipengaruhi oleh kehamilan.  Titoksin Kelenjar tiroid mengalami hipertropi dan produksi T4 meningkat. Tetapi T4bebas relatip tetap, karena thyroid binding globulin meninggi, sebagai akibat tingginya esterogen, dan juga merupakan akibat hiperplasia jaringan glandular dan peningkatan vaskularisasi. Tiroksin mengatur metabolisme.  Aldosteron, Renin dan Angiotensin Hormon ini naik, yang menyebabkan naiknya volume intravaskuler.  Insulin Produksi insulin meningkat sebagai akibat esterogen, progesteron, dan HPL.  Perathormon Hormon ini relatif tidak dipengaruhi oleh kehamilan. 5. Perubahan pada Sistem Pencernaan Salivasi meningkat dan pada trimester pertama mengeluh mual dan muntah. Tonus otot-otot saluran pencernaan melemah sehingga motilitas dan makanan akan lebih lama berada dalam saluran makanan. Resorbsi makanan baik, namun akan menimbulkan obstipasi. Gejala muntah(emesis gravidarum) sering terjadi, biasanya pada pagi hari disebut sakit pagi(morning sickness) 6. Perubahan pada Metabolis Umumnya, kehamilan mempunyai efek pada metabolism, karena itu wanita hamil perlu mendapat makanan yang bergizi dan dalam kondisi sehat : Berat badan wanita hamil akan naik sekitar 6,5-16,5 kg. kenaikan berat badan yang terlalu banyak ditemukan pada keracunan hamil(pre-eklamsi dan eklamsi. Kenaikan berat badan wanita hamil disebabkan oleh: Janin, uri, air ketuban, uterus Payudara, kenaikan volume darah, lemak, protein dan retensi air Kebutuhan kalori meningkat selama kehamilan dan laktasi. Kalori yang dibutuhkan untuk ini terutama diperoleh dari pembakaran zat arang, khususnya sesudah kehamilan 5 bulan keatas. Namun, bila dibutuhkan dipakai lemak ibu untuk mendapatkan tambahan kalori Wanita hamil memerlukan makanan yang bergizi dan harus mengandung banyak protein. Di Indonesia masih banyak dijumpai penderita defisiensi zat besi dan vitamin B, oleh karena itu wanita hamil harus diberikan Fe dan roboransia yang berisi mineral dan vitamin Tingkat metabolic Basal (Basal Metabolic Rate, BMR) pada wanita hamil meninggi hingga 15-20%, terutama pada trimester akhir Keseimbangan asam-alkali sedikit mengalami perubahan konsentrasi alkali : Wanita tidak hamil : 155 mEq/liter Wanita Hamil : 145 mEq/liter Natrium serum : turun dari 142 menjadi 135 mEq/liter Bikarbonat Plasma : turun dari 25 menjadi 22mEq/liter Dibutuhkan protein yang banyak untuk perkembangan fetus, alat kandungan, payudara dan badan ibu, serta untuk persiapan laktasi Hidrat arang : seorang wanita hamil sering merasa haus, nafsu makan kuat, sering kencing, dan kadang kala dijumpai Glukosuria yang mengingatkan kita pada Diabetes mellitus. Dalam kehamilan, pengaruh kelenjar endokrin agak terasa, seperti somatomamotropin, plasma insulin, dan hormone-hormon adrenal-17-ketosteroid. Untuk rekomendasi, harus diperhatikan sungguh-sungguh hasil GTT oral GTT intravena Metabolisme Mineral : Kalsium : dibutuhkan rata-rata 1,5 Gramsehari sedangkan untukm pembentukan tulang-tulang terutama dalam trimester terakhir dibutuhkan 30-40 Gram Fosfor : dibutuhkan rata-rata 2 g/hari Zat Besi : dibutuhkan tambahan zat besi kurang lebih 800 mg, atau 30-50mg sehari Air :Wanita hamil cenderung mengalami retensi air 7. Perubahan pada Sistem Muskuloskeletol TRIMESTER I Pada trimester pertama tidak banyak perubahan pada musculoskeletal. Akibat peningkatan kadar hormon estrogen dan progesterone, terjadi relaksasi dari jaringan ikat, kartilago, dan ligament juga meningkatkan jumlah cairan synovial. Bersamaan dua keadaan tersebut meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas persendian. Keseimbangan kadar kalsium selama kehamilan biasanya normal apabila asupan nutrisinya khususnya produk susu terpenuhi. Tulang dan gigi biasanya tidak berubah pada kehamilan yang normal. Karena pengaruh hormone estrogen dan progesterone, terjadi relaksasi dari ligament-ligamen dalam tubuh menyebabkan meningkatkan mobilitas dari sambungan/ otot terutama otot-otot pada pelvic. Bersamaan dengan membesarnya ukuran uterus menyebabkan perubahan yang drastis pada kurva tulang belakang yang biasanya menjadi salah satu cirri pada seorang ibu hamil. Perubahan-perubahan tersebut dapat meningkatkan ketidaknyamanan dan rasa sakit pada bagian belakang yang bertambah seiring dengan penambahan umur kehamilan. TRIMESTER II Selama trimester kedua mobilitas persendian akan berkurang terutama pada daerah siku dan pergelangan tangan dengan meningkatnya retensi cairan pada jaringan konektif/ jaringan yang berhubungan di sekitarnya. TRIMESTER III Sendi pelvic pada saat kehamilan sedikit dapat bergerak. Perubahan tubuh secra bertahap dan peningkatan berat wanita hamil menyebabkan postur dan cara berjalanan wanita berubah secara menyolok. Peningkatan distensi abdomen yang membuat panggul miring ke depan, penurunan tonus otot perut dan peningkatan beban berat badan pada akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian ulang (realignment) kurvatura spinalis. Pusat gravitasi wanita bergeser ke depan. kurva lumbo sacrum normal harus semakin melengkung di daerah servikodorsal harus terbentuk kurvatura. Payudara yang besar dan posisi bahu yang bungkuk saat berdiri akan semakin membuat kurva punggung dan lumbal menonjol. Pergerakan menjadi lebih sulit. Struktur ligament dan otot tulang belakang bagian tengah dan bawah mendapat tekanan berat. Otot dinding perut meregang dan akhirnya kehilangan sedikit tonus otot. Otot rektus abdominus dapat memisah, menyebabkan isi perut menonjol di garis tengah tubuh. Umbilicus menjadi lebih datar atau menonjol. Hormon progesteron dan hormone relaxing menyebabkan relaksasi jaringan ikat dan otot-otot. Tulang pubik melunak menyerupai tulang sendi, sambungan sendi sacrococcigis mengendur membuat tulang koksigis bergeser kea rah belakang sendi panggul yang tidak stabil, menyebabkan sakit pinggang. Postur tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan karena janin membesar dalam abdomen sehingga untuk mengkompensasi penambahan berat ini, bahu lebih tertarik ke belakang dan tulang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur, dan dapat menyebabkan nyeri punggung pada beberapa wanita. Untuk mengkompensasi posisi anterior uterus yang semakin membesar, lordosis menggeser pusat gravitasi ke belakang pada tungkai bawah. Mobilitas sebdi sakroiliaka, sakrokogsigeal, dan sendi pubis bertambah besar dan menyebabkan rasa tidak nyaman di bagian bawah punggung di akhir kehamilan. Ligament rotundum mengalami hipertropi dan mendapatkan tekanan dari uterus yang mengakibatkan rasa nyeri pada ligament tersebut. 8. Perubahan pada sistem Perkemihan TRIMESTER I Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan sehingga sering timbul kencing. Fungsi ginjal berubah karena adanya hormone kehamilan, peningkatan volume darah, postur wanita, aktivitas fisik dan asupan makanan. Sejak minggu ke-10 gestasi, pelviks ginjal dan ureter berdilatasi. Ginjal pada saat kehamilan sedikit bertambah besar, panjangnya bertambah 1-1,5 cm. Ureter berdilatasi. Volume renal meningkat 60 ml dari 10 ml pada wanita yang tidak hamil. Filtrasi glomerulus meningkat sekitar 50% selama kehamilan. TRIMESTER II Kandung kencing tertekan oleh uterus yang membesar mulai berkurang, karena uterus sudah mulai keluar dari uterus. Kandung kemih tertarik ke atas dan keluar dari panggul sejati ke arah abdomen. Urethra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser ke atas. Tonus kandung kemih dapat menurun. Pembesaran uterus menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih walaupun kandung kemih hanya berisi sedikit urine. TRIMESTER III Pada akhir kehamilan kepada janin mulai turun ke pintu atas panggul keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing akan mulai tertekan kembali. Selain itu juga terjadi hemodelusi menyebabkan metabolismeair menjadi lancar. 9. Perubahan pada Sistem Kardiovaskuler TRIMESTER I Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mamae dan alat lain yang memang berfunsi berlebihan dalam kehamilan. Volume plasma maternal mulai meningkat pada saat 10 minggu usia kehamilan dan terus meningkat sampai 30-34 minggu, sampai mencapai titik maksimum. Perubahan rata-rata volume plasma maternak berkisar antara 20-100%. RBC meningkat 18% tanpa suplemen-suplemen zat besi dan terjadi peningkatan yang lebih besar yaitu 30% jika ibu meminum suplemen zat besi. Karena volume plasma darah meningkat rata-rata 50%sementara massa RBC meningkat hanya 18-39%, maka terjadi penurunan hematokrit selama kehamilan normal sehingga disebut anemis fisiologis. Tekanan darah akan turun pada minggu ke-24 akibat terjadi penurunan dalam perifer vaskuler resistence yang disebabkan oleh pengaruh peregangan otot halus oleh prigesteron. Tekanan sistolik akan turun sekitar 5-10 mmHg dan diastolic pada 10-15 mmHg. Cardiac output meningkat sekitar 30-50%. Progesteron akan menimbulkan relaksasi otot-otot polos dan menyebabkan dilatasi dindidng pembuluh darah yang akan mengimbangi peningkatan kekuatan dari jantung. Karena diafragma terdorong ke atas, jantung terangkat ke atas dan berotasi ke depan dan ke kiri. Impuls pada apeks, titik impuls maksimum bergeser ke atas dan lateral sekitar 1-1,5 cm. Selain itu, mulai terjadi palpitasi karena pembesaran ukuranserta bertambahnya cardiac output. TRIMESTER II Pada usia kehamilan 16 minggu, mulai jelas kelihatan terjadi proses hemodelusi. Setelah 24 minggu tekanan darah ssedikit demi sedikit naik kembali pada tekanan darah sebelum aterm. Bunyi splitting S1, S2, lebih jelas terdengar. S3 lebih jelas terdengar setelah minggu ke-20 gestasi. Antara minggu ke-14 dan 20, denyut meningkat perlahan, mencapai 10-15 kali per menit., kemudian menetap sampai aterm. Dapat timbul palpitasi. TRIMESTER III Hemodelusi penambahan volume darah sekitar 25% dengan ouncak pada usia kehamilan 32 minggu. Sedangkan hematokrit mencpai level terendah pada minggu 30-32 karena setelah minggu ke-34, massa RBC terus meningkat tetapi volume plasma tidak. Aliran darah meningkat dengan cepat seiring pembesaran uterus. Walaupu aliran darah uterus meningkat 20 kali lipat, ukuran konseptus meningkat lebih cepat. Akibatnya lebih banyak oksigen diambil dari darah uterus selama masa kehamilan lanjut. 10. Perubahan pada Sistem Respirasi Wanita hamil kadang-kadang mengeluh sesak dan pendek napas, Hal ini disebabkan oleh usus yang tertekan kearah diafragma akibat pembesaran rahim. Kapasitas vital paru meningkat sedikit selama hamil. Seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam. Yang lebih menonjol adalah pernapasan dada 11. Perubahan pada Sistem Imun Sistem imun adalah suatu organisasi yang terdiri atas sel-sel dan molekul-molekul yang memiliki peranan khusus dalam menciptakan suatu sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi atau benda asing. Peningkatan pH sekresi vagina wanita hamil membuat wanita tersebut lebih rentan terhadap inveksi vagina. Sistem kekebalan tubuh ibu selama kehamilan akan tetap utuh, kadar imunoglobulin dalam kehamilan tidak berubah. Kadar imunoglobulin tidak berubah pada kehamilan. Kadar antibodi IgG ibu yang spesifik memiliki kepentingan khusus karena kemampuannya untuk melintasi plasenta. igG ibu adalah komponen utama dari Ig janin in utero dan periode neonatal dini. IgG adalah satu-satunya Ig yang dapat menembus plasenta. Imunitas pasif yang bermakna dapat dipindahkan dengan cara ini kejanin dan membantu melindunginya dari infeksi selama periode perinatal. IgM, karena ukuran molekulnya yang lebih besar tidak dapat melewati plasenta. Ig yang lain seperti IgA, IgD, dan IgE juga terbatas pada kompartemen ibu dan tidak menunjukkan kerugian atau keuntungan langsung pada janin. Sistem imun janin muncul secara dini. Limfosit muncul pada minggu ke tujuh dan pengenalan antigen dapat terlihat pada minggu ke 12. semua jenis Ig kecuali IgA terdapat pada minggu ke 12. produksi berbagai Ig bersifat progresif disepanjang kehamilan. Janin neonatus cukup bulan telah menghasilkan sistem pertahanan yang cukup untuk memerangi bakteri dan virus. 12. Perubahan pada Sistem Persyarafan Perubahan fisiologik spesifik akibat kehamilan dapat terjadi timbulnya gejala neurologis dan neuromuscular berikut. Kempresi syaraf panggul atau statis vuskular akibat pembesaran uterus dapat menyebabkan perubahan sensori di tungkai bawah. Lordosis dorsolumbal dapat menyebabkan nyeri akibat tarikan pada syaraf atau kompresi akar syaraf. Edema yang melibatkan syaraf perifer dapat menyebabkan carpal tunnel syndrome selama trimester akhir kehamilan. Edema menekan syaraf median di bawah ligamentum karpalis pergelangan tangan. Sindrom ini ditandai oleh parestesia (sensasi abnormal seperti rasa terbakar atau gatal akibat gangguan pada system syaraf sensori) dan nyeri pada tangan yang menjalar ke siku. Tangan yang dominan biasanya paling banyak terkena. Akroestesia (rasa baal dan gatal di tangan) jyang timbul akibat posisi bahu yang membungkuk, dirasakan oleh beberapa wanita hamil. Keadaan ini berkaitan dengan tarikan pada segmen fleksus brakialis. Nyeri kepala akibat ketegangan umum timbul saat ibu merasa cemas dan tidak pasti tentang kehamilannya. Nyeri kepala juga dapat dihubungkan dengan gangguan penglihatan. Nyeri kepala ringan, rasa ingin pingsan bahkan pingsan (sinkop) yang terjadi pada awal kehamilan. Ketidakstabilan vasomotor, hipotenski postural atau hipoglikemi mungkin keadaan yang bertanggung jawab. Hipokalsemia dapat mrnyrbabkan timbulnya masalah neuromuscular, sperti kram otot atau tetani. TANDA-TANDA KEHAMILAN Menentukan kehamilan yang sudah lanjut memang tidak sukar, tetapi mentukan kehamilan awal seringkali tidaklah mudah, terutama bila pasien baru mengeluh terlambat haid beberapa minggu saja. Berbagai tanda dan gejala kehamilan hanyalah petunjuk yang perlu diperhatikan tetapi bukan untuk diandalkan sebagai suatu kepastian yang mutlak. Tanda-tanda kehamilan disini dibedakan menjadi 3 yaitu : 1. Tanda Mungkin Hamil Amenorhea – Wanita tidak datang menstruasi 2 bulan berturut-turut. Nausea (mual) dan emesis (muntah) -Umumnya terjadi pada wanita hamil muda umur 6-8 minggu. Mual-mual pada pagi hari disebut morning sickness. Akibat dari pengaruh hormon progesteron dan estrogen sehingga pengeluaran asam lambung berlebihan. Mastodynia – Payudara terasa nyeri dan kencang disebabkan payudara membesar karena pengaruh hormon estrogen pada ductus mammae dan progesteron pada alveoli. Quickening – Perasaan gerakan janin pada minggu ke 18 atau minggu 20 (primigravida) dan umur 14 atau 16 minggu pada multi gravida. Gerakan janin pertama kali dapat digunakan untuk menentukan umur kehamilan. Miksi – Wanita hamil trimester I dan III sering merasakan sering kencing karena uterus yang gravid mendesak vesica urinaria. Konstipasi – Kesulitan buang air besar karena pengaruh hormon progesteron yang menghambat peristaltik usus dan karena perubahan pola makan. Weight gain – Pertambahan berat badan ibu tidak selalu berbanding lurus dengan pertambahan berat janin. Pertambahan berat badan ibu ada artinya setelah umur 20 minggu.Umumnya pertambahan berat badan normal selama kehamilan adalah 8-14 kg. Fatigue – Perasaan lelah pada ibu hamil sulit diterangkan, namun kerja jantung dirasakan lebih berat pada umur 32 minggu. Nail sign – Umumnya umur 6 minggu wanita hamil mengeluh ujung kuku lunak dan lebih tipis. Mengidam – Ingin makanan atau minuman tertentu. Hal ini terjadi pada bulan-bulan pertama. Sinkope (pingsan) – Adanya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) sehingga menyebabkan iskemik susunan saraf pusat. Pigmentasi kulit – Pengaruh hormon kortikosteroid plasenta, sering dijumpai pada muka (chloasma gravidarum), dinding perut (striae gravidarum = suatu perubahan warna seperti jaringan parut), leher dan sekitar payudara (hiperpigmentasi areola mamae, puting susu menonjol, kelenjar montgomery menonjol, pembuluh darah menifes). Epulis – Hipertropi papilla ginggivae (gusi berdarah). Varises – Pemekaran vena-vena, dapat terjadi pada kaki, betis dan vulva. Biasanya dijumpai pada triwulan akhir. sumber fadlie.web.id 2. Tanda tidak pasti Perut membesar Uterus membesar, sesuai dengan umur kehamilan. Tanda Chadwicks, mukosa vagina berwarna kebiruan karena hipervaskularisasi hormon estrogen. Discharge, lebih banyak dirasakan wanita hamil. Ini pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Tanda Goodell, portio teraba melunak. Tanda Hegar, isthmus uteri teraba lebih panjang dan lunak. Tanda Piscaseck, pembesaran dan pelunakan pada tempat implantasi. Biasannya ditemukan saat umur 10 minggu. Teraba ballotement (tanda ada benda mengapung/ melayang dalam cairan), pada umur 16-20 minggu. Kontraksi Braxton Hicks, kontraksi uterus (perut terasa kencang) tetapi tidak disertai rasa nyeri. Reaksi kehamilan positif 3. Tanda pasti Adanya gerakan janin yang dapat dilihat, dirasakan dan diraba serta ditemukan bagian-bagian janin. Terdengar denyut jantung janin secara auskultasi – Dapat didengar dengan stetoscop monoculer laenec, doppler, alat kardiotograf dan dilihat pada USG. Terlihat tulang-tulang janin pada foto rontgen – rongten sudah tidak disarankan. Namun ada sumber buku lain yang menyebutkan bahwa tanda-tanda kehamilan hanya dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Tanda mungkin hamil Tanda Saat terjadinya Kemungkinan sebab lainnya Amenorhoe (henti haid) Biasanya sepanjang kehamilan Perjalanan, kelelahan, stress, perasaan takut hamil, maslah hormonal atau penyakit, bertambahnya atau berkurangnya berat badan yang berlebihan, penghentian pil KB, menyusui. Mual di pagi hari (atau bias setiap saat di sepanjang hari) 2-8 minggu setelah pembuahan Keracunan makanan, ketegangan, infeksi, dan berbagai jenis penyakit. Sering buang air kecil Biasanya 6-8 mingugu setelah pembuahan Infeksi pada system kemih, obat diuretic, ketegangan, penyakit gula. Rasa tergelitik, nyeri tekan, pembengkakan pada payudara Bias beberapa hari setelah pembuahan Pil KB, menstruasi Perubahan warna pada jaringan vagina dan serviks Trimester pertama Menstruasi Areola(area sekitar putting) berwarna gelap dan kelenjar-kelenjar kecil di sekitar putting menjadi menonjol Trimester pertama Ketidakseimbangan hormon atau pengaruh kehamilan sebelumnya Guratan biru dan merah muda di bawah kulit payudara dan kemudian di bagian perut Trimester pertama Ketidakseimbangan hormon atau pengaruh kehamilan sebelumnya Mengidam Trimester pertama Diet yang buruk, stres, imajinasi atau menstruasi. Melunaknya rahim dan leher rahim 2-8 minggu setelah pembuahan Keterlambatan menstruasi. Membesarnya rahim dan perut 8-12 minggu Tumor, fibroid. Kontraksi sebentar-sebentar tanpa nyeri Awal kehamilan dan akan lebih sering terjadi sesuai dengan meningkatnya usia kehamilan Kontraksi usus. Gerakan janin Pertama kali dirasakan pada minggu ke 16-22 kehamilan Gas/ angin, kontraksi usus. Garis dari pusat kea lat vital berwarna lebih gelap Bulan ke-4 atau 5 Ketidakseimbangan hormon atau pengaruh kehamilan sebelumnya. 2. Tanda Positif hamil Tanda Saat terjadinya Kemungkinan sebab lainnya Gambaran janin atau kantung gestasi pada ultrasonografi Sedini minggu ke 4-6 setelah pembuahan Tidak ada Detak jantung janin Minggu ke 10-20 Tidak ada Gerakan janin terasa melalui dinding perut Setelah 16 minggu Tidak ada Gerakan janin melalui palpasi (outline janin) Jelas pada minggu ke 22 Gerakan janin lebih jelas lagi pada minggu ke-24 Tidak ada DAFTAR PUSTAKA Cunningham, Gary. 2006. Obstetri Williams. Jakarta : EGC Eisenberg, Arlene. 1996. Kehamilan: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan, Edisi Kedua. Jakarta: Arca. Farrer, Helen. 1998. Perawatan Maternitas. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Ibrahim, Christina s. 1989. Perawatan Kebidanan. Jakarta: Bhratara Niaga Medika Kusmiyati, Yuni. 2008. Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya Llewellyn, Derek. 2002. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi, Edisi 6. Jakarta: Hipokrates Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid , Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Varney, Helen. 2003. Buku Ajar Asuhan Kebidanan volume 1, Edisi 4. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

LAPORAN PENDAHULUAN IBU HAMIL DENGAN TB PARU

LAPORAN PENDAHULUAN I. DEFINISI • Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh M. Tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrakolumnar. Diperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia pernah terinfeksi kuman M. Tuberculosis. • Tuberkulosis paru-paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat pula menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe. (Irman Somantri. 2007 : 59) • Karena prevalensi TBC paru-paru di Indonesia masih tinggi, dapat diambil asumsi bahwa frekuensinya pada wanita akan tinggi. Diperkirakan 1 % wanita hamil menderita TBC paru-paru. Menurut Prawirohardjo & Soemarto (1954), frekuensi wanita hamil yang menderita TBC paru-paru di Indonesia yaitu 1,6%. di negara kurang makmur dan negara berkembang, frekuensinya lebih tinggi. • Penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan tenang. Penyakit paru – paru yang dalam keadaan aktif, akan menimbulkan masalah bagi ibu, bayi dan orang-orang sekelilingnya. Jadi, sebenarnya adalah masalah sosial. Pengaruh TBC paru-paru terhadap kehamilan dan sebaliknya sedikit banyak ada. ( Rustam Mochtar. 1998 : 154 ) II. ETIOLOGI Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. sebagian besar komponen M. tuberculosis adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat kimia dan factor fisik. Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen. Oleh karena itu, m. tuberculosis senang tinggal di apeks paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi. Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk penyakit tuberculosis. (Irman somantri. 2007 : 59) III. PATOFISIOLOGI Infeksi diawali karena seseorang menghirup basil M. tuberculosis. Bakteri menyebar melalui jalan napas menuju alveoli lalu berkembang biak dan terlihat bertumpuk. Perkembangan M. tuberculosis juga dapat menjangkau sampai ke area lain dari paru-paru (lobus atas). Selanjutnya, system kekebalan tubuh memberi respon dengan melakukan reaksi inflamasi. Neutrophil dan makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan bakteri), sementara limfosit spesifik-tuberkulosis menghancurkan (melisiskan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan terakumulasinya eksudat dalam alveoli yang menyebabkan bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar bakteri. Interaksi antara M. tuberculosis dan system kekebalan tubuh pada masa awal infeksi membentulk sebuah masa jaringan baru yang disebut granuloma. Granuloma terdiri atas gumpalan basil hidup yang mati yang dikelilingi oleh makrofag seperti dinding. Granuloma selanjutnya berubah bentuk menjadi masa jaringan fibrosa. Bagian tengah dari masa tersebut disebut ghon tubercle. Materi yang terdiri atas makrofag dan bakteri menjadi nekrotik yang selanjutnya membentuk materi yang penampakannya seperti keju. Hal ini akan menjadi klasifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen kemudian bakteri menjadi non aktif. Setelah infeksi awal, jika respon system imun tidak adekuat maka penyakit akan menjadi lebih parah. Penyakit yang kian parah dapat timbul akibat infeksi tulang atau bakteri yang sebelumnya tidak aktif kembali menjadi aktif. Pada ksus ini, ghon tubercle mengalami ulserasi sehingga menghjasilkan necrotizing kaseosa di dalam bronkus. Tubercle yang ulserasi selanjutnya menjadi sembuh dan membentuk jaringan parut. Paru-paru yang terinfeksi kemudian meradang. Mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia membentuk tubercle dan seterusnya. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya. Proses ini berjalan terus dan bacillus di fagosit (berkembang biak ) di dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tubercle epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10-20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis dan jaringan granulasi yang dikelilingi sel epitel dan fibroblast akan menimbuilkan respon berbeda, kemudian pada akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang dikelilingi oleh tuberkel. (Irman Somantri. 2007 : 59-60) Infeksi ditularkan melalui inhalasi Mycobacterium tuberculosis, yang memicu suatu reaksi granulomatosa di paru. Pada lebih dari 90% pasien, infeksi dapat dikendalikan dan menjadi dorman untuk jangka waktu yang lama. Pada beberapa pasien, terutama yang mengalami imunosupresi atau mengidap penyakit lain, tuberkulosis mengalami reaktivasi dan menimbulkan gejala klinis. Gambaran klinis biasanya berupa batuk dengan sputum mi9nimal, demam ringan, hemoptisis, dan penurunan berat. Berbagai pola infiltrat tampak pada foto toraks, dan mungkin juga terdapat kavitasi atau limfadenopati mediastinum. Basil tahan asam dijumpai pada apusan sputum pada sekitar 2/3 dari pasien yang biakannya positif. Tuberkulosis ekstraparu dapat timbul di semua organ, dan hampir 40% pasien positif HIV mengalami penyakit diseminata. (F. Gary Cunningham. 2005 : 1387) IV. TANDA DAN GEJALA 1. batuk menahun, 2. hemaptoe (batuk darah), 3. kurus kering. (Rustam Moechtar.1998 : 154 – 156) Gejala klinik infeksi tuberkulosis adalah batuk dengan sputum minimal, hemoptisis, subfebris, penurunan berat badan, dan pada pemeriksaan foto toraks ditemukan gambaran ilfitrat, kavitas, dan limfadenopati mediastinum. Pemeriksaan radiologik harus memakai pelindung timah pada abdomen, sehingga bahaya radiasi dapat diminimalisasi. Pada trimester I hindari pemeriksaan foto toraks karena efek radiasi yang sedikitpun masih berdampak negatif pada sel-sel muda janin. (sarwono prawirohardjo.2008 : 800-807) V. KLASIFIKASI Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktorn determinan untuk menetapkan strategi terapi. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: A. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. 3. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. B. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif. C. Bekas TB Paru dengan kriteria: a. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. c. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto yang tidak berubah. d. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). (www.jarumsuntik.com) VI. PENANGANAN Sebelum hamil perlu diberi konseling mengenai pengaruh kehamilan dan TBC, serta pengobatan.adanya TBC tidak merupakan indikasi untuk melakukan abortus. Pengobatan TBC dengan isoniazid, rifampisin, etambutol dan pirazinamid tidak merupakan kontraindikasi pada kehamilan. Pengobatan TBC dengan amino-glikosida(streptomisin) merupakan kontraindikasi pada kehamilan karena dapat menyebabkan ototoksik pada janin. Pengobatan TBC dalam kehamilan menurut rekombinasi WHO adalah dengan pemberian regimen kombinasi isoniazid, rifampisisn, etambutol selama 9 bulan. 16Saat persalinan mungkin diperlukan pemberian oksigen yang adekuat dan cara persalinan sesuai indikasi obstetrik. Pemakaian masker dan ruangan isolasi diperlukan untuk mencegah penularan. Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapat obat anti TBC. Perlu divaksinasi BCG. (sarwono prawirohardjo.2008 : 800-807) 1. Dalam kehamilan • Ibu hamil dengan proses aktif, hendaknya jangan dicampurkan dengan waniyta hamil lainnya pada pemeriksaan antenatal. • Untuk diagnosis pasti dan pengobatan selalu bekerjasama dengan ahli paru-paru. • Penderita dengan proses aktif, apalagi dengan batuk darah, sebaiknya dirawatv di rumah sakit, dalam kamar isolasi. Gunanya untuk mencegah penularan, untuk menjamin istirahat dan makanan yang cukup, serta pengobatan yang intensif dan teratur. • Obat-obatan : INH, PAS, rifadin dan streptomisin. • TBC paru-paru tidak merupakan indikasi untuk abortus buatan dean terminasi kehamilan. 2. Dalam persalinan • Bila proses tenang, persalian akan berjalan seperti biasa dan tidak perlu tindakan apa-apa. • Bila proses aktif, kala I dan II diusahakan seringan mungkin. Pada kala I, ibu hamil diberi obat-obat penenang dan analgetika dosis rendah. Kala II diperpendek dengan ekstrasi vakum/forceps. • Bila ada indikasi obstetrik untuk seksio sesarea, hal ini dilakukan bekerja sama dengan ahli anastesi untuk memperoleh anastesi mana yang terbaik. 3. Dalam masa nifas : • Usahakan jangan terjadi perdarahan yang banyak, diberi uterus tonika dan koagulansia. • Usahakan mencegah terjadinya infeksi tambahan dengan memberikan antibiotika yang cukup. • Bila ada anemia sebaiknya diberikan transfusi darah, agar daya tahan ibu lebih kuat terhadap infeksi sekunder. • Ibu dianjurkan segera memakai kontrasepsi atau bila jumlah anak sudah cukup, segera dilakukan tubektomi. 4. Perawatan bayi Biasanya bayi akan ditulari ibunya setelah kelahiran, dan TBC bawaan (kongenital) sangat jarang. • Bila ibu dalam proses TBC aktif,  Secepatnya bayi diberikan BCG  Bayi segera dipisah dari ibunya selama 6-8 minggu.  Bila uji mantoux sudah positif pada bayi, barulah bayi barulah bayi dapat ditemukan lagi dengan ibunya. • Menyusukan bayi, pada proses aktif, dilarang karena kontak langsung dari mulut ibu pada bayi. • Dapat diberikan anti TBC profilaksis pada bayi yaitu INH : nig/kg berat badan/hari. 5. TBC paru-paru dan alat reproduksi : • TBC paru-paru dapat bersamaan dengan TBC alat genetalia. Wiknjosastro H. (1959) menemukan pada 15 wanita penderita TBC genetalis 40% sarang primernya terdapat di paru-paru. • TBC genetalis dapat menyebabkan :  Kemandulan  Bila terjadi kehamilan, hasil konsepsi sering berakhir dengan abortus, kehamilan ektopik terganggu dan partus prematurus.  TBC genitalis yang sudah tenang dan pulih,, dapat kambuh lagi setelah abortus dan persalinan. (Rustam Moechtar.1998 : 154 – 156) Untuk pasien tidak hamil yang positif tuberkulin dan berusia kurang dari 35 tahun serta tidak memperlihatkan penyakit aktif, diberikan isoniazid 300 mg per hari selama 1 tahun. Isoniazid adalah obat kategori C yang dianggap aman bagi wanita hamil. Namun pada wanita hamil yang negatif HIV, sebagian penulis menganjurkan bahwa terapi ditunda sampai setelah melahirkan. Karena mungkin terjadi peningkatan hepatitis akibat isonizid pada wanita pascapartum, sebagian penulis menganjurkan bahwa terapi ditunda sampai 3-6 bulan pascapartum. Untuk mencegah infeksi aktif, metode pascapartum tidak selektif terapi antepartum. Terdapat pengecualian untuk penundaan terapi pada wanita hamil. Orang yang diketahui baru mengalami perubahan hasil uji kulit (convertor) diberi terapi karena insiden infeksi aktif adalah 3 persen dalam tahun pertama. Wanita yang uji kulitnya positif dan terpajan ke inbfeksi aktif diberi terapi karena insiden infeksi adalah 0,5 persen per tahun. Akhirnya wanita yang positif HIV diberi terapi karena risiko tahuna untuk penyakit adalah 8%. Pilihan lain adalah menunda terapi sampai setelah 12 minggu padea p[ara wanita asimtomatik ini. Toksisitas isoniazid antara lain adalah hepatitis, yang lebih sering terjadi pada pasien berusia kurang dari 35 tahun. Walaupun enzim-enzim hati menunjukkan bahwa 10 sampai 20 persen pasien mengalami peningkatan transien, terapi tidak dihentikan kecuali apabila peningkatannya lima kali daripada normal. Karena munculnya resistensi obat, Center of Desease Control (1993)sekarang menganjurkan regimen empat obat untuk terapi empiris awal pada pasien tidak hamil dengan tuberkulosis simtomatik. Obat-obat tersebut adalah isoniazid, rifampin, dan pirazinamid disertai etambutol atau streptomisin yang diberikan sampai pemeriksaan sensitivitas selesai. Uji sensitivitas obat dilakukan terhadap semua isolat pertama. Untungnua, sebagian besar obat tuberkulostatik lini-pertama tampaknya tidak mengganggu janin. Salah satu pengecualian adalah streptomisin, yang dapat menyebabkan tuli kongenital. Selain itu, keamanan pirazinamid yang diberikan pada kehamilan muda belum diketahui pasti. Center of Disease Control (1993) menganjurkan bahwa regimen per oral untuk wanita hamil harus mencakup : 1. Isoniazid, 5 mg/kg, jangan melebihi 300 mg/hari, bersama dengan piridoksin, 50 mg per hari. 2. Rifampin, 10 mg/kg/hari, jangan melebihi 600 mg per hari. 3. Etambutol, 5 sampai 25 mg/kg/hari, jangfan melebihi 2,5 g/hari. Obat ibni diberikan paling sedikit selama 9 bulan. Untuk wanita yang terinfeksi HIV, pemakaian rifampin atau rifdabutin mungkin dikontraindikasikan apabila ia juga mendapat inhibitor nucloside reverse transcriptase tertentu. Apabila terjadi resistensi terhadap obat-obat ini, dipertimbangkan dengan terapi dengan pirazinamid. (F. Gary Cunningham. 2005 : 1388 - 1389) MANAGEMENT OF LABOUR A vaginal delivery is usual unless there are obstetrics indications for a lower segment caesarean section. The first stage of labour is managed in usual way, epidural anaesthesia being a suitable method of pain relief. In the second stage an elective forceps delivery is usually performed to prevent undue fatigue. Blood loss must be kept to a minimum, so an intravenous injections of ergometrine 0.25 – 0.5 mg is given with the birth of the anterior shoulder. Should and anaesthetic be necessary, the equipment must be throughly cleaned and the face mask and tubing sterilized after use. (Mayes Midwifery. 1993 : 301 ) Terjemahan : Sebuah pengeluaran cairan vagina biasa kecuali ada indikasi kebidanan untuk bagian segmen bawah rahim. Tahap pertama dari kerja dikelola dengan cara biasa, epidural anestesi menjadi metode yang cocok penghilang nyeri. Pada tahap kedua merupakan pilihan pengiriman forsep biasanya dilakukan untuk mencegah kelelahan yang tidak semestinya. Kehilangan darah harus diminimalkan, sehingga sebuah suntikan intravena ergometrine 0,25-0,5 mg diberikan dengan kelahiran bahu anterior. Harus dan anestesi diperlukan, peralatan harus dibersihkan secara menyeluruh dan masker wajah dan tubing disterilkan setelah digunakan. DAFTAR PUSTAKA Cuningham, F.Gary.2005.Obtetri William. Jakarta. EGC Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran 1. Jakarta. Media Aesculapsus. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta, EGC Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jkarta. PT.Bina Pustaka Somantri, Irman. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta. Salemba Medika http://jarumsuntik.com/asuhan-keperawatan-dengan-tb-paru/

ASKEB IBU HAMIL DENGAN TB PARU

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NY. “L” DENGAN TB PARU No. Register : 12546896 Tanggal Pengkajian : 15 Juli 2011 Jam : 09.00 WIB Pengkajian Masuk : GIPoooo UK 31 minggu I. PENGKAJIAN A. Data Subyektif 1. Identitas Nama Pasien : Ny ”Y” Nama Suami : Tn “B” Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/ Bangsa : Jawa/Indonesia Umur : 24 Tahun Umur : 25 Tahun Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : SMA Pendidikan : S1 Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Guru Penghasilan : - Penghasilan : Rp. 3.000.000/bln Alamat : Jl. Kartini No.18 Alamat : Jl. Kartini No.18 Desa Pocanan Desa Pocanan 2. Keluhan Utama Ibu mengatakan sejak 2 hari yang lalu tgl 13 Juli 2011 mengalami batuk-batuk, nyeri pada dada, keringat malam, nafsu makan menurun. Ibu mengatakan pernah menderita TBC saat umur 16 Th. 3. Riwayat Menstruasi Menarche : 13 tahun Haid sebelumnya : 12-11-2010 HPHT : 10-12-2010 Lama : 6-7 hari Lama : 6-7 hari Banyaknya : 3 x ganti pembalut Banyaknya : 3 x ganti pembalut HPL : 17 – 9 - 2011 Siklus : 28 hari Teratur / tidak : Teratur Dismenorhoe : tidak Flour Albus : tidak Warna/bau : - 4. RIWAYAT KEHAMILAN SEKARANG ANC TM I Berapa kali Keluhan Terapi 3x di bidan Tina Mual,muntah B6 ( 2 x 1 ) TM II Berapa kali Keluhan Terapi 2 x di bidan Tina tidak ada tablet Fe, Kalk (1x1) TM III Berapa kali Keluhan Terapi 1 x di bidan Tina Batuk, nyeri pada dada Etambuthol , B6, tablet Fe (1x1) Hasil Tes Kehamilan ( jika dilakukan ) tanggal: - Jam : - Imunisasi TT berapa kali : 2x Kapan : saat UK 8 mg dan UK 12 mg Pergerakan fetus pertama kali dirasakan pada usia kehamilan : 4 bulan Pergerakan fetus dalam 3 jam terakhir 4 kali Penyuluhan yang didapat : Ibu mengatakan sudah mendapat penyuluhan tentang gizi ibu hamil, kebersihan diri dan senam hamil. 5. Pola Makan dan Minum Makan : 3x/hari (nasi, lauk, sayur, buah ) Minum : 6-7 gelas/hari, air putih, dan susu Perubahan pola makan yang dialami (ngidam , nafsu makan, dll) : ibu mengatakan nafsu makan berkurang saat bulan pertama kehamilan dan tidak ngidam 6. Pola Aktivitas sehari-hari Istirahat : tidur siang = ½ jam/hari Tidur : tidur malam = 7-8 jam/hari, susah tidur karena batuk Hub. Sexual : satu kali saat usia kehamilan 6 bulan 7. Pola eliminasi BAB : 1 x sehari , warna agak kehitaman, konsistensi lunak BAK : 7-8x/hari, warna kuning jernih, konsistensi cair 8. RIWAYAT KB Kontrasepsi yang pernah digunakan : Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun Rencana kontrasepsi yang akan digunakan : suntik 3 bulanan 9. RIWAYAT KEHAMILAN, PERSALINAN, NIFAS YANG LALU No Tgl/bln Persalinan Tempat Persalinan UK Jenis Persalinan Penolong Penyulit Anak Nifas Ket JK BB PB 1. Hamil ini 10. RIWAYAT PENYAKIT YANG SEDANG DIDERITA Ibu mengatakan tidak pernah atau sedang menderita penyakit menular HIV, PMS. menurun seperti hipertensi, DM, Asma. Menahun seperti jantung, paru-paru, ginjal. 11. RIWAYAT PENYAKIT YANG LALU Ibu mengatakan pernah menderita penyakit menular yakni TB Paru saat umur 16 Th. 12. RIWAYAT PENYAKIT KETURUNAN Ibu mengatakan baik dari keluarga ibu maupun suami tidak ada keturunan kembar, hipertensi, DM, asma 13. PERILAKU KESEHATAN Minum alcohol/obat-obatan : ibu tidak minum alkhohol/obat-obatan Jamu yang sering digunakan : ibu tidak minum jamu apapun Merokok, makan sirih, kopi : tidak merokok,tidak makan sirih dan kopi Ganti pakaian dalam : 2 x ganti pakaian dalam Dll : - 14. RIWAYAT SOSIAL Apakah kehamilan ini direncanakan : iya, Jenis kelamin yang diharapkan : laki-laki atau perempuan sama saja Status perkawinan : sah Berapa kali perkawianan : 1x Lama : 1 th Jumlah anggota keluarga yang tinggal serumah : 1 orang Susunan keluarga yang tinggal dirumah : No Jenis Kelamin Umur /Th Hubungan keluarga Pendidikan Pekerjaan Ket. 1. Laki –laki 25 Suami S1 Guru 15. KEPERCAYAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS Kehamilan : ada kebisaan selamatan dan tidak boleh makan telur 16. KEADAAN PSIKOSOSIAL Hubungan dengan keluarga : baik, suami ikut mengantar ibu saat periksa ke bidan Hubungan dengan masyarakat : baik, ibu senang mengikuti kegiatan sosial dikampungnya dan tetangga ikut membantu saat ada acara selamatan B. Data Obyektif 1. Pemeriksaan Umum a. Keadaan Umum : Lemah b. Kesadaran : Compos Mentis c. Keadaan Emosional : Cemas d. Tekanan Darah : 110/80 mmHg e. Nadi : 84x/menit f. Pernafasan : 28x/menit g. Suhu : 37,0 ºC h. TB : 159 cm i. BB Sebelum hamil : 49 kg j. BB Sekarang : 56 kg k. LILA : 23,5 cm 2. Pemeriksaan Khusus a. Inspeksi 1. Kepala  Warna rambut : Hitam  Benjolan : Tidak ada benjolan  Rontok : tidak rontok  Ketombe : tidak ada ketombe 2. Muka : cloasma gravidarum : tidak ada 3. Mata  Kelopak mata : tidak oedema -/-  Konjungtiva : merah muda  Sclera : putih 4. Hidung  Simetris : iya  Secret : tidak ada secret  Polip : tidak ada polip 5. Mulut dan gigi  Bibir : kering  Lidah : bersih  Gigi : tidak ada caries  Gusi : tidak epulis 6. Telinga  Simetris : iya  Serumen : terdapat sedikit serumen 7. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, limfe dan vena jugularis. 8. Axila : Pembesaran kelenjar limfe : tidak ada pembesaran 9. Dada  Payudara  Pembesaran : iya  Simetris : iya  Papila Mamae : menonjol  Benjolan Tumor : tidak ada benjolan  Pengeluaran : colostrum  Strie : -  Retraksi : terdapat tanda-tanda penarikan paru  Kebersihan : bersih 10. Abdomen  Pembesaran : ada  Linea nigra : ada  luka bekas operasi : tidak ada  strie livide : tidak ada  strie albican : tidak ada 11. Punggung : Posisi Tulang belakang : sedikit lordosis 12. Anogenital :  Keadaan Perineum : utuh  Warna vulva : merah kebiruan  Pengeluaran Pervaginam : flour albus  Pembesaran kelenjar bartholini : tidak ada  Oedema : tidak  Condilomatalata/ condiloma acuminata : tidak ada  Anus : tidak haemorroid 13. Ektremitas  Oedema : tidak ada  Varises : tidak ada  Simetris : iya  b. Palpasi Leopold I : TFU ½ Proc. Xyphoideus – Pusat , teraba bokong Leopold II : Teraba punggung kiri Leopold III : Teraba bagian terendah kepala dan belum masuk PAP Leopold IV : Tidak dilakukan Mac Donald : TFU = 29 cm TBJ : ( 29 – 13 ) x 155 = 2480 gram c. Auskultasi  Dada : tidak ada bunyi whezing, tidak ada mengi, terdapat bunyi ronchi kasar.  DJJ : Tempat : dibawah pusat sebelah kiri Frekuensi : ( 11 – 12 - 11 ) = 136 x/menit Teratur / tidak : teratur d. Perkusi  Refleks Patella : +/+ 3. PEMERIKSAAN DALAM  Vulva :  Vagina :  Porsio :  Pembukaan :  Effacement : tidak dikaji  Ketuban :  Presentasi :  Posisi/denominator :  Penurunan Hodge : 4. PELVIMETRIS KLINIS ( BILA ADA INDIKASI )  Promontorium :  Linea inominata :  Dinding samping : tidak dikaji  Sacrum :  Arcus Pubis : 5. PEMERIKSAAN PANGGUL LUAR  Distansia Spinarum : 24 cm  Distansia Cristarum : 29 cm  Konjugata Eksterna : 18 cm  Lingkar Panggul : 80 cm  Distansium Tuberum : 12 cm  Kesan Panggul : normal 6. PEMERIKSAAN LABORATORIUM  Darah : • Hb : 11 mg/dL • Golongan Darah : -  Urine : • Protein : - • Reduksi : - 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG LAIN Darah = sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif. Sputum = ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru Test Tuberkulosis : Mantoux test positif 8. KESIMPULAN GIP0000 UK 31 minggu dengan TB Paru , Hidup, Tunggal, Intrauterine, letak membujur , presentasi kepala, kesan jalan lahir normal, k/u ibu baik. II. INTEPRETASI DATA NO DATA DASAR DIAGNOSA/MASALAH/ KEBUTUHAN 1. DS : - Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama - Ibu mengatakan tidak pernah keguguran - Ibu mengatakan HPHTnya tanggal 10-12-2010 - Ibu mengatakan sejak 2 hari yang lalu tgl 13 Juli 2011 mengalami batuk-batuk, nyeri pada dada, keringat malam, nafsu makan menurun. Ibu mengatakan pernah menderita TBC saat umur 16 Th. DO : 1. Pemeriksaan Umum KU : Lemah Kesadaran : Compos Mentis Keadaan Emosional : Cemas TTV: Tekanan Darah : 110/80 mmHg Nadi : 84 x/menit Pernafasan : 28x/menit Suhu : 37,0 ºC TB : 159 cm BB : Sebelum hamil : 49 kg Sekarang : 56 kg LILA : 23,5 cm DJJ : Teratur, 138 x/menit Pemeriksaan mulut : Bibir kering Pemeriksaan dada : Terdapat tanda-tanda penarikan paru, terdapat bunyi ronchi 2. Pemeriksaan Laboratorium • Hb : 11 mg/dl 3. Pemeriksaan Penunjang • Darah : sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif. • Sputum : ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru • Test Tuberkulosis : Mantoux test positif Dx : GIP0000 UK 31 minggu dengan TB paru 2. Ds : - Ibu mengatakan cemas dengan keadaannya Do : k/u lemah Keadaan emosi : cemas Masalah - Cemas 3. DS : Ibu mengatakan belum mengetahui akibat TBC pada kehamilannya DO : Ibu belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang akibat TBC dalam kehamilannya Kebutuhan - KIE mengenai TBC dalam kehamilan V. PERENCANAAN NO. DIAGNOSA RENCANA RASIONAL 1. Dx = GIP0000 UK 31 mg dengan TB Paru Tujuan : - Untuk memantau dan mengetahui tumbuh kembah janin dan kesehatan ibu Kriteria Hasil : Janin : DJJ = 120- 160x/mnt TBJ =1700gr Gerakan = 20 x/hari Ibu: TTV : TD : 110-120/70 – 80 mmHg N : 60-80 x/ menit Suhu : 36,5 -37,5 ºC Rr : 20 – 24 x/ menit ↑BB = TM III = 5,5 kg Hb = 11 mg/dl Konjungtiva : merah muda Palpasi LI : TFU : pertengahan proc.xyphoideus sampai pusat, teraba bokong LII : teraba punggung kiri LIII : terba kepala dan belum masuk PAP Intervensi : 1. Jalin komunikasi teraupetik pada ibu. 2. Jelaskan pada ibu hasil pemeriksaan. 3. Berikan terapi obat dan vitamin (advis dokter) 4. Anjurkan ibu untuk teratur dalam minum obat 5. Anjurkan ibu untuk makan-makanan yang bergizi 6. Anjurkan ibu untuk menggunakan masker 7. Jelaskan pada ibu tentang tanda bahaya pada kehamilan lanjut. 8. Jelaskan pada ibu tentang perubahan fisiologis pada TM III 9. Ajurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1. Ibu menjadi lebih kooperatif. 2. Ibu dapat mengerti tentang kondisinya 3. Keadaan ibu tidak menjadi lebih parah. 4. Cara kerja obat menjadi optimal. 5. Makanan yang bergizi dapat memenuhi nutrisi ibu dan janin. 6. Penggunaan masker dapat mencegah penularan virus pada orang lain. 7. Deteksi ini untuk penatalaksanaan sesegera mungkin 8. Ibu tahu cara mengatasinya dan tidak cemas 9. Memantau kesehatan ibu dan tumbuh kembanh janin. 2. Masalah : Cemas Tujuan: Ibu merasa tidak cemas lagi Kriteria Hasil : Ibu dapat lebih tenang dan dapat menerima kondisinya saat ini k/u baik Keadaan emosi : stabil Intervensi :. 1. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup. 2. Motivasi keluarga untuk mendampingi ibu dan memberi dukungan pada ibu. 3. Motivasi ibu untuk menjaga kondisinya agar tidak lebih parah 1. Istirahat yang cukup dapat memulihkan tenaga ibu. 2. Keluarga dapat memberi dukungan psikologis pada ibu. 3. Penyakit yang diderita ibu tidak menjadi lebih parah. 3. Kebutuhan - KIE mengenai TBC dalam kehamilan Tujuan : Ibu mengetahui akibat TBC pada kehamilannya Kriteria Hasil : Ibu dapat menjelaskan tentang akibat TBC dalam kehamilannya Intervensi : 1. Jelaskan pada ibu tentang penyakit TBC. 2. Jelaskan pada ibu tentang penyebab penyakit TBC. 3. Jelaskan pada ibu tanda dan gejala terkena penyakit TBC. 4. Jelaskan pada ibu akibat penyakit TBC pada kehamilannya. 1. Ibu dapat mengetahui pemyakit TBC secara benar dan jelas. 2. Ibu mengerti tentang penyebab penyakit TBC. 3. Deteksi dini untuk penatalaksanaan sesegera mungkin. 4. Ibu lebih berhati-hati dalam menjaga kondisi ibu dan janinnya. IV. PELAKSANAAN No DIAGNOSA TGL/JAM KEGIATAN 1. GIP0000 UK 31 minggu dengan TB Paru 15 Juli 2011 09.30 WIB 1. Menjalin komunikasi teraupetik pada ibu. 2. Menjelaskan pada ibu hasil pemeriksaan. 3. Memberikan terapi obat dan vitamin (advis dokter) 4. Menganjurkan ibu untuk teratur dalam minum obat 5. Menganjurkan ibu untuk makan-makanan yang bergizi 6. Menganjurkan ibu untuk menggunakan masker 7. Menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya pada kehamilan lanjut. 8. Menjelaskan pada ibu tentang perubahan fisiologis pada TM III 9. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2. Masalah : Cemas 15 Juli 2011 09.40 WIB 1. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup. 2. Memotivasi keluarga untuk mendampingi ibu dan memberi dukungan pada ibu. 3. Memotivasi ibu untuk menjaga kondisinya agar tidak lebih parah 3. Kebutuhan : KIE mengenai TBC dalam kehamilan 15 Juli 2011 09.50 WIB 1. Menjelaskan pada ibu tentang penyakit TBC. 2. Menjelaskan pada ibu tentang penyebab penyakit TBC. 3. Menjelaskan pada ibu tanda dan gejala terkena penyakit TBC. 4. Menjelaskan pada ibu akibat penyakit TBC pada kehamilannya V. EVALUASI NO DIAGNOSA TGL / JAM EVALUASI 1 GIP0000 UK 31 minggu dengan TB Paru 15 Juli 2011 10.0 IB S : Ibu mengerti dengan penjelasan yang telah diberikan. O : - ibu dapat mengulangi penjelasan yang diberikan. - Ibu dapat menjawab pertanyaan yang diberikan sesuaipenjelasan yang diberikan. A : GIP0000 UK 31 minggu dengan TB Paru P : - Anjurkan ibu untuk makan-makanan yang bergizi - Motivasi ibu untuk minum obat secara rutin - Anjurkan ibu kunjungan ulang 2 minggu kemudian atau jika mendapatkan keluhan 2 Masalah : Cemas 15 Juli 2011 10.05 WIB S : Ibu mengatakan sudah tidak merasa cemas O : - Ibu mengatakan lebih tenang - Ibu dapat mengulangi penjelasan dengan baik A : masalah teratasi P : - Anjurkan ibu untuk istirahat cukup. - Motivasi keluarga untuk mendampingi ibu dan memberi dukungan pada ibu. - Motivasi ibu untuk menjaga kondisinya agar tidak lebih parah 3. Kebutuhan : KIE mengenai TBC dalam kehamilan 15 Juli 2011 10.10 WIB S : Ibu mengatakan mengerti akan penjelasan petugas O : - Ibu dapat mengulangi penjelaskan tentang TBC - Ibu dapat memberikan contoh akibat TBC dalam kehamilannya A : Kebutuhan terpenuhi P : - Anjurkan ibu untuk menggunakan masker dan datang paling awal jika ingin ANC - Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu kemudian atau jika mendapatkan keluhan

Rabu, 17 Februari 2010

__yang tlah laluw__

Aku tau. .
Pernah ku coba ukir mimpi disebuah hati
Namun kenyataan yg ada tak seperti yg kuingini


Indah didamba
Sepi justru membayangi
Rindu diharap
Deraan perih isi hati


Jika begitu adanya
Maaf. .kutambah satu luka untukmu hari ini(8 januari KELABU)


Dan akupun kan memilih
melangkah sendiri
Tanpa dirimu dan juga mimpi-mimpi sepi. .

Rabu, 20 Januari 2010

D’Masiv feat. Kevin Aprilio – Rindu Setengah Mati (OST Kejora dan Bintang)


aku ingin engkau ada di sini

menemaniku saat sepi

menemaniku saat gundah


berat hidup ini tanpa dirimu

ku hanya mencintai kamu

ku hanya memiliki kamu


reff:

aku rindu setengah mati kepadamu

sungguh ku ingin kau tahu

aku rindu setengah mati


meski tlah lama kita tak bertemu

ku selalu memimpikan kamu

ku tak bisa hidup tanpamu


repeat reff

aku rindu setengah mati


aku rindu setengah mati kepadamu

sungguh ku ingin kau tahu

aku rindu



Lirik lagu D’Masiv feat. Kevin Aprilio – Rindu Setengah Mati (OST Kejora dan Bintang) ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 D’Masiv feat. Kevin Aprilio – Rindu Setengah Mati (OST Kejora dan Bintang).

Jumat, 08 Januari 2010

warning
setiap melihat ini diharuskan tertawa...